Oligohidramnios dan Prematurity

Edukasi – Kiat Menjaga Kesehatan Organ Reproduksi
October 23, 2017
Baby-Led Weaning
October 30, 2017

 

Mengenal Oligohidramnios Salah Satu Penyebab Persalinan Prematur

Oligohidramnios atau oligohidramnion adalah kondisi saat cairan ketuban berada pada kadar terlalu rendah, dan dapat menyebabkan gangguan saat persalinan hingga kematian bayi.
Cairan ketuban berperan penting melindungi bayi dari guncangan dan infeksi, membantu menjaga suhu dalam rahim, mencegah tekanan pada tali pusat yang mengganggu pasokan oksigen pada bayi, membantu sistem pernapasan dan pencernaan janin, serta memungkinkan bayi untuk bergerak guna perkembangan tulang dan ototnya.
Oligohidramnios atau kurangnya cairan ketuban dalam tubuh dapat menghambat berbagai fungsi di atas, menyebabkan cacat janin, tekanan pada tali pusar, bahkan bisa menyebabkan kematian. Selain itu, kadar cairan ketuban yang sangat rendah berisiko menyebabkan kontraksi rahim atau pun pergerakan bayi yang dapat menekan tali pusar.

Kantung ketuban terbentuk 12 hari setelah terjadi pembuahan dengan cairan ketuban yang mendukung kehidupan bayi dalam kandungan. Pada trimester kedua, bayi mulai dapat bernapas dan menelan cairan ketuban ini untuk hidup. Di usia kehamilan 34-36 minggu, seorang ibu hamil rata-rata membawa sekitar 1 liter cairan ketuban dalam kandungannya. Setelah itu, cairan ini perlahan akan berkurang hingga tiba waktu persalinan.

Oleh karenanya, ketersediaan cairan ketuban dalam kadar normal penting untuk mendukung perkembangan janin. Dokter dapat mengukur normal tidaknya kadar cairan ketuban ini dengan mengevaluasi indeks cairan ketuban melalui USG.

Apa itu Oligohidramnios?

Oligohidramnios adalah kondisi saat cairan ketuban berada pada kadar terlalu rendah yang diindikasikan dengan:

  • Indeks cairan ketuban menunjukkan kadar cairan kurang dari 5 cm pada akhir trimester kedua.
  • Saat usia kehamilan 32-36 minggu, jumlah cairan ketuban kurang dari 500 mL

Sementara, cairan ketuban yang ada dalam kadar terlalu tinggi disebut polihidramnion.

Oligohidramnios dapat dipicu banyak hal seperti gangguan plasenta, kelainan bawaan pada janin, bocornya kantung ketuban, persalinan yang lewat dari tanggal perkiraan, ketuban pecah dini, diabetes, preeklampsia, hipertensi, dehidrasi, dan hipoksia kronis.

Oligohidramnios dapat terjadi kapan pun, tapi paling umum terjadi di trimester ketiga kehamilan. Selain itu, orang yang mengandung lebih dari satu anak atau bayi kembar juga lebih berisiko mengalami oligohidramnios. Oligohidramnios dapat menyebabkan komplikasi pada sekitar 12% kehamilan yang berusia 41 minggu ke atas.

Risiko keguguran pada kehamilan akan meningkat jika ibu hamil mengalami oligohidramnios. Sekitar 80-90% kehamilan dengan kondisi oligohidramnios dilaporkan mengalami keguguran akibat cacat bawaan pada janin. Jika kondisi ini baru terdiagnosis saat menjelang trimester akhir kehamilan, maka risiko kelahiran prematur dan kemungkinan harus dilahirkan dengan prosedur Caesar akan lebih tinggi.

Beberapa Langkah Penanganan Oligohidramnios

Penanganan oligohidramnios bergantung pada kondisi bayi, usia kehamilan, dan ada tidaknya komplikasi selama kehamilan. Penanganan tersebut dilakukan dengan cara:

  • Janin perlu mendapat pemantauan ketat melalui USG untuk melihat aktivitas dan kondisinya.
  • Ibu hamil akan dianjurkan untuk mengonsumsi banyak cairan.
  • Pada kasus tertentu, seperti pertumbuhan bayi dalam rahim terhambat atau pun preeklamsia, oligohidramnios mungkin perlu ditangani melalui persalinan yang diinduksi jika usia kehamilan sudah mendekati waktu persalinan.
  • Saat persalinan, dokter mungkin akan memberikan cairan ketuban melalui kateter yang dimasukkan ke dalam rahim untuk mengurangi risiko tekanan pada tali pusat.
  • Pertimbangan untuk melahirkan dengan operasi Caesar.

Dengan memeriksakan kandungan secara teratur, risiko oligohidramnios dapat dideteksi lebih dini dan penanganan yang tepat bisa segera diupayakan oleh dokter. Namun, segera periksakan diri ke bidan maupun dokter jika bayi terasa tidak begitu aktif seperti biasa selama kehamilan.

 

Facebook Comments