Penyebab Anak Terlambat Bicara Dan Cara Mengatasinya

Normalkah Hamil Tanpa Mual?
March 2, 2018
Kontraksi Menjelang Persalinan Seperti Ini Rasanya Bunda….
March 20, 2018

Jangan terlalu khawatir. Mungkin saja anak Bunda memang belum waktunya untuk mencapai tahapan tersebut. Dan juga anak yang dibesarkan di lingkungan dengan lebih dari satu bahasa atau bilingual memang cenderung akan lebih lambat untuk memulai berbicara. Lantas, bagaimana mengetahui ciri-ciri anak yang tergolong normal dan anak yang memiliki keterlambatan dalam berbicara?

Sebenarnya, perkembangan bicara tiap anak berbeda-beda. Namun, ada patokan dasar yang bisa Bunda gunakan untuk mengukur sejauh mana kemampuan bicara anak Bunda sesuai usianya. Hal ini bisa diterapkan untuk mendeteksi apakah anak Bunda mengalami keterlambatan dalam berbicara atau tidak.

Berikut ini adalah patokan kemampuan berbicara anak sesuai usianya.

  • Usia 3 bulan
    Pada usia ini, bayi mulai mengeluarkan suara yang tidak memiliki arti seperti berdekut atau bisa dibilang ‘bahasa bayi’. Dia juga sudah mulai mengenali dan mendengar suara Bunda serta memperhatikan wajah Bunda saat berbicara kepadanya. Sebagai orang tua, Bunda harus jeli dengan tiap tangisan yang dia keluarkan. Pada usia tiga bulan, bayi sudah bisa menangis untuk kebutuhan yang berbeda-beda.
  • Usia 6 bulan
    Bayi mulai mengeluarkan suara-suara yang berbeda dan terdengar lebih jelas suku katanya, walau tidak memiliki arti, seperti mengucapkan “da-da” atau “ba-ba”. Pada akhir usia enam bulan, bayi sudah bisa bersuara untuk mengekspresikan kondisinya saat senang atau sedih, melihat ke arah yang menimbulkan suara, dan memperhatikan alunan musik. Saat namanya disebut, bayi juga sudah bisa menoleh ke arah Bunda.
  • Usia 9 bulan
    Setelah usia sembilan bulan, bayi akan memahami beberapa kata dasar seperti ‘”tidak” atau “ya”. Dia juga mulai menggunakan nada suara yang lebih luas.
  • Usia 12 bulan
    Dia sudah bisa mengucapkan kata “mama” atau “ayah” dan menirukan kata-kata yang Bunda ucapkan. Pada usia satu tahun ini, dia sudah bisa memahami beberapa perintah seperti, “Ayo, kemari” atau “Ambil botolnya”. Bayi  juga sudah mengenal beberapa benda seperti sepatu, boneka, atau botol susu.
  • Usia 18 bulan
    Bayi sudah bisa mengulang kata-kata yang Bunda ucapkan kepadanya dan akan menunjuk ke sebuah benda atau bagian tubuh yang Bunda sebutkan. Di usia tersebut, bayi juga sudah bisa mengucapkan sekitar 10 kata dasar. Namun normal jika ada beberapa kata yang masih belum jelas pengucapannya seperti kata “makan” disebut “mam”.
  • Usia 24 bulan
    Dia sudah bisa mengucapkan setidaknya 50 kata dan berkomunikasi memakai dua kosa kata seperti “mau susu”.
  • Usia 3-5 tahun
    Kosakata yang dimiliki anak pada usia tersebut akan berkembang dengan cepat. Pada usia tiga tahun, sebagian besar anak-anak dapat menangkap kosakata baru dengan cepat. Mereka juga sudah bisa memahami perintah yang lebih panjang seperti, “Ayo, cuci kaki dan sikat gigi” atau “Buka sepatunya lalu ganti baju”.

Pada usia empat tahun, dia akan berbicara menggunakan kalimat yang lebih panjang dan bisa menjelaskan sebuah peristiwa. Satu tahun kemudian, dia sudah bisa berbincang-bincang dengan orang lain.

Cara Menstimulasi Kemampuan Berbicara Anak

Peran aktif Bunda sebagai orang tua sangat berpengaruh terhadap perkembangan bicara anak. Ada cara-cara yang bisa Bunda lakukan untuk merangsang kemampuan berkomunikasi Si Kecil.

Ikuti semua ucapannya.

Perhatikan suara-suara  tidak jelas ala bayi yang terucap dari Si Kecil. Kemudian ikuti dengan persis suara tersebut. Saat masih bayi, kata-kata yang terucap dari Si Kecil kerap terdengar tidak jelas. Meski Bunda tidak mengerti apa maksudnya, Bunda bisa mengulangi perkataannya sesuai yang Bunda tangkap. Lalu bertanya kepadanya apa maksud dari kata-kata tersebut.

Berbicara sambil bergerak.

Saat berbicara dengan bayi, Bunda harus aktif bergerak dan ekspresif. Misal Bunda mengatakan, “Ayo, kita minum susu” sambil menggoyang-goyangkan botol susu atau Bunda bisa membelai sebuah boneka sambil mengatakan “Sayang bonekanya, dielus-elus.”

Begitu pula saat mengajarkannya mengenal bagian-bagian tubuh.

Biasakan membuat narasi.

Meski dia belum bisa berbicara layaknya orang dewasa, Bunda tetap bisa memakai percakapan sehari-hari saat berkomunikasi dengannya. Misalnya saat memakaikan baju pada anak Bunda bisa berbicara, “Hari ini (bisa sebut namanya) pakai baju motif bunga-bunga agar terlihat cantik” sambil memperlihatkan baju kepada Si Kecil. Hal ini bisa membantu bayi memahami objek tertentu melalui perkataan Bunda. Terapkanlah hal ini pada kegiatan lainnya seperti saat mandi, memberikan makan, mengganti popok, dan sebagainya.

Selain itu, bayi juga suka mendengar suara orang tuanya. Pada saat itu bayi belajar untuk berbicara, terutama saat Bunda berbicara kepadanya.

Biasakan selalu berbicara menggunakan kalimat lengkap kepadanya. Contohnya ketika dia menunjuk ke arah boneka yang berada di atas meja. Bunda jangan langsung mengambilkannya. Lebih baik ucapkanlah satu atau dua kalimat seperti, “Kamu mau bemain dengan boneka ini?” Ketika dia merespons dengan anggukan atau senyuman, Bunda bisa langsung memberikannya.

Kembali menjadi anak kecil.

Ketika memiliki anak, terkadang orang tua harus bisa berakting menjadi anak kecil. Ajak Si Kecil untuk bermain, berpura-pura, atau membayangkan sesuatu untuk mengembangkan kemampuan verbalnya. Misalnya, pura-pura menelepon ayah dengan telepon mainan.

Puji perkembangannya.

Selalu beri pujian, senyuman dan pelukan tiap kali dia mengeluarkan suara atau kosakata baru. Pada umumnya, bayi belajar berbicara dari reaksi orang-orang di sekitarnya.

Kapan Bunda Harus Konsultasi ke Dokter?

Ayah dan Bunda bisa berkonsultasi ke dokter anak jika anak terlambat bicara atau tidak sesuai patokan dasar yang telah disebutkan di atas. Sebaiknya lakukan pengecekan ke dokter sedini mungkin ketika  melihat ada kejanggalan pada Si Kecil. Hal tersebut bisa sangat bermanfaat bagi masa depannya.

Saat berkonsultasi ke dokter, biasanya anak  akan menjalani beberapa tes seperti tes pendengaran dan evaluasi tumbuh kembang. Pemeriksaan ini penting untuk memantau apakah anak memiliki masalah pada pendengaran. Hal ini bisa menjadi salah satu faktor yang menghambatnya berbicara.

Bunda juga bisa mengajak  ke terapis bicara. Seorang terapis bisa mendiagnosis dan menangani hal-hal yang bisa mengganggu perkembangan berbicara anak. Dia juga bisa memberikan tips untuk Bunda dan merekomendasikan beberapa permainan untuk mengembangkan kemampuan berbicara anak.

Pemantauan perkembangan anak juga bisa Bunda lakukan untuk mengetahui apakah anak  memiliki kelainan, seperti autisme atau gangguan pekembangan, yang bisa menyebabkan anak terlambat bicara.