Relaktasi, Cara Menyusui Kembali Setelah Sempat Berhenti

Tidak Ada yang Sulit dalam Perawatan Tali Pusat
August 10, 2017
Tiap Wanita Hamil Berisiko Mengalami Gangguan Plasenta
August 10, 2017

Namun, bagi busui mana pun yang bertekad kuat untuk terus menyusui, selalu tersedia kesempatan kedua: relaktasi!

Memicu Keluarnya ASI

Berhentinya proses menyusui yang tak direncanakan bisa disebabkan berbagai alasan, misalnya ibu yang harus terpisah dari bayi untuk bekerja, rawat inap atau lain hal. Stres juga bisa memengaruhi aliran ASI. Sementara itu, keputusan untuk tidak menyusui segera setelah bayi lahir maupun terjadi masalah menyusui lainnya, juga bisa membuat ASI berhenti mengalir.

Terlepas dari alasan yang melatarinya, kegiatan menyusui bisa dimulai kembali dengan relaktasi. Istilah relaktasi merujuk kepada upaya agar payudara yang tadinya berhenti memproduksi ASI, dapat kembali mengeluarkan ASI.

Perlu diingat bahwa upaya ini bisa membuahkan hasil yang berbeda pada tiap orang, sehingga jangan mengharapkan hasil yang instan, upaya ini mungkin membutuhkan waktu beberapa minggu, tergantung pada faktor usia bayi, jeda waktu berhenti menyusui, serta kondisi payudara ibu menyusui. Karena faktor-faktor tersebut, ASI yang keluar nantinya tidak selalu bisa diandalkan untuk mencukupi kebutuhan bayi secara penuh. Tetapi, relaktasi tetap dapat menjaga hubungan antara ibu dan bayi.

Langkah-langkah Relaktasi

Yuk, Bunda, lakukan beberapa langkah relaktasi berikut dengan optimis.

  • Sering menempelkan puting bunda ke mulut bayi. Bila dia mau melekat dan mengisap, susui dia setiap dua jam selama 15-20 menit. Namun, bila Si Kecil belum tertarik, jangan memaksa tetapi jangan menyerah. Coba lagi ketika dia terlihat senang maupun mengantuk. Semakin sering menyusui bayi secara langsung, maka ASI akan semakin mungkin untuk mengalir lagi.
  • Menyusui bayi di malam hari. Hal ini dapat berpengaruh kuat terhadap produksi ASI.
  • Lakukan kontak kulit bayi dengan kulit bunda. Kontak ini bisa dilakukan oleh ibu dan bayi dalam keadaan telanjang agar sentuhan kulit terjadi. Posisi yang bisa Bunda lakukan, misalnya dalam keadaan berbaring lalu meletakkan bayi di atas dada Bunda. Agar tidak kedinginan, tutup dengan selimut.
  • Oleskan ASI pada puting sebelum menyusui. Bila payudara sudah bisa memproduksi ASI, peras sedikit sebelum menyodorkan payudara ke bayi.
  • Di antara waktu menyusui, cobalah untuk memerah ASI. Memerah dapat dilakukan dengan menggunakan pompa maupun tangan. Tindakan memerah payudara ini dapat merangsang payudara untuk memproduksi ASI.
  • Konsumsi makanan atau suplemen yang meningkatkan produksi ASI. Suplemen dengan kandungan kelabat (fenugreek), sering disebut sebagai booster ASI.
  • Memberikan susu formula melalui posisi menyusui. Bila ASI belum kunjung keluar dan bayi masih menyusu dengan susu formula, Bunda dapat mengusahakan untuk memberikan susu formula dengan posisi seperti menyusui dari payudara.
  • Bersabarlah. Jangan berharap proses ini memberikan hasil yang instan. Si Kecil mungkin akan menolak untuk menyusui selama 1-2 minggu sebelum ia kembali terbiasa. Sementara itu, mungkin perlu beberapa minggu agar suplai ASI Bunda meningkat.

Bila produksi ASI masih belum ideal, Bunda mungkin perlu melengkapi asupan gizi bayi dengan donor ASI, susu formula, atau makanan padat  pendamping ASI  jika bayi berusia lebih dari enam bulan. Sementara itu, sangat penting untuk terus memantau kenaikan berat badan bayi untuk memastikan kebutuhan nutrisinya tercukupi dengan baik

Facebook Comments